Dia desa yang sangat ramah dulunya
Disetiap paginya burung-burung bernyanyi dihamparan sawah siap panen
Para petani berlarian siap menuai berkah demi berkah
Tak ada detik terlewatkan tanpa lagu
Sore datang dengan kehangatan mentari yang menyusut
Kembali terdengar elang yang mendaratkan cakarnya ke ranting pohon
Setiap derap kaki menuntun kita untuk pulang
Menutup pundi dihari ini
Malam menyapa kembali dengan alunan suara si jangkrik
Hujan turun berirama dengan katak yang riang dengan hamparan rumput hijau
kami pun terlelap dengan kemerduan melodi malam itu
Hingga satu ketika kami mendengar suara yang tak biasa
Kami di kejutkan dengan getaran yg menghentikan setiap nada
Butiran-butiran putih berjatuhan
Panas rasanya!!
Kami berlarian ketakutan
Entah apa yang merasukinya
Dia begitu marah
Entah pada kami atau pada orang kota yang selalu memangkasnya
Dia seperti menatap tajam pada dunia
Berusaha katakan dia benci semua tangan manusia
Tapi tak satu hati pun mengerti bahasanya
Ntah kapan aumannya berhenti
Dari kejauhan ku dengar dia berteriak
"Enyahlah para tangan manusia!!"








0 komentar:
Posting Komentar