RSS

Untuk Pria ku



16/04/15


Malam priaku..
Ini kali pertama aku sungkan memanggil “sayang” pada pacarku sendiri. :D
Kali pertama juga aku betah menulis surat untuk orang yang sama.

Gimana hari mu belakangan ini?
Capek ya…

Ya.. aku cukup paham tentang pekerjaan mu yang membuat aku sedikit kesal belakangan ini.
Pekerjaan yang harus aku akui kadang membuat aku egois.
Aku akan galau semalaman entah karena pesan singkat ku sekedar di baca atau hanya kau balas sebatas syarat.

Entah sejak kapan aku semanja ini

Percayalah, aku sering menggerutu sendiri saat “merasa” di acuhkan.
Saat kau lebih memilih game2 itu di banding aku.
Aku sering kecewa saat aku sakit, dan kau lebih memilih kumpul dengan teman mu dibanding sekedar menelfon menanyakan “udah minum obat belum?” padaku.

Ini konyol, aku sering menangis hanya karena sangat merindukan mu.
Dan hal paling menyakitkan saat aku merusaha memejamkan mata ku berusaha untuk tidur lebih awal berusaha menahan rinduku tapi dibalik nya aku mengatur volume keras di handphone ku berharap kau akan menelfon, jam berapa pun itu dapat aku dengar dan pasti aku angkat sekedar mendengar suara mu yang sudah sebulan ini menghilang.

Aku bukan gadis semanja ini sebelumnya.
Aku menjalani hariku dengan santai sendirian.
Pergi kemana aku suka tanpa berharap ada yang bilang “hati2 ya sayang”
Itu bukan aku.
Atau bukan gadis yang berharap, “have nice dream dear” sebelum aku tidur. Tidak itu bukan aku.

Malam ini, keadaan terwaras ku sejak kau berlalu dari halaman ku dini hari itu.
Pertanyaan yang sudah hampir 2 bulan ingin aku tanyakan ku rasa belum juga mendapat momen yang pas.
Hanya pertanyaan simple kok..
“Apakah kau menyangiku?”

Kau sedang sangat sibuk sepertinya,
Aku takut merusak mood mu dengan pertanyaan konyol ku.
Sama seperti malam ini, aku bertahan tak mengirimi mu pesan karena lagi lagi aku paham kau sedang ingin sendirian tanpa aku.
Ini tak seburuk di awal. Saat aku gelisah memikirkan ini dan itu.
Aku mulai terbiasa dengan rutinitasmu.
Aku mulai paham tentang keras rasa jenuh yang kau hadapi untuk rutinitas mu belakangan ini.

pria ku..
Terimakasih mengembalikan aku menjadi gadis mandiri lagi.
Terimakasih melatihku menjadi lebih dewasa, pengertian, sabar dan menghargai dunia mu yang telah ada sebelum aku.

Tak perlu heran kalau belakangan aku lebih longgar terhadap dunia mu.
Saat aku bilang “gimana kerjaan nya hari ini? Capek? mau main game? Yaudah, tapi jangan lama pulang. Hati2 di jalan”.
Aku sama sekali tak menggerutu lagi. Tidak sama sekali.
Aku lebih memilih mengisi rindu dengan belajar bagaimana cara efektif menyetrika tumpukan kain, belajar memanagemen keuangan, belajar resep baru, browsing tentang apa yang kaum mu harapkan dari kaum ku.
Aku lebih memilih memantaskan diri dengan mimpi yang sedang kau kejar sekarang.

Tak jarang aku sedikit khawatir dengan kesehatan mu, tak apa sekedar kau balas dengan “iya”,
Aku senang.
Aku tau sesekali pasti aku menjadi sosok menyebalkan bersama khawatir berlebihan ku.
Aku mencintaimu. Cuma itu pembelaan yang aku punya.

Jumat, sabtu, minggu, senin hari2 terberat saat aku tak melewati hari di kampus ku. Kampus yang mampu menarik alih sebagian manja ku terhadap mu.
Tak perduli seberapa aku berusaha menyibukan diri dengan pekerjaan rumah ku atau berusaha tidur seharian.
Ya.. aneh, tapi aku rindu setiap hari.


Kalau ketemu memangnya mau ngapain?

Pertanyaan simple yang sering membuat aku tersenyum kecil.
Memangnya aku berani memelukmu seperti emotion yang sering aku kirimkan? Hahaha
Aku ragu.
Mungkin aku perempuan teraneh di dunia ini, yang gerogi ke pacarnya sendiri.
Jujur, aku sering menarik nafas panjang sebelum mengangkat telfon mu.
Jantungku tak teratur saat aku ingin mengetik “syg” untuk mu.
Tak perlu aku jelaskan kenapa seperti itu, kau telah melihat sendiri gugup ku yang lebih memalukan. :D

Sejak mengenalmu aku berubah menjadi pribadi yang membingungkan.
Entah aku ini kenapa.

Kenapa aku harus terlalu banyak menuntut?
Bukannya menjalin hubungan seperti sekarang aku sebut bonus? :D

Priaku.. terkadang aku  merasa terlalu berlebihan membagi sepenuhnya apa yang aku rasakan padamu.
Mulai dari menceritakan aku mimpi kita bertemu sampai rasa rindu ku yang mulai ganas.
Aku sedikit takut dengan yang mereka bilang “pria akan bosan saat tau wanita nya sangat mencintainya”.
Lalu aku harus apa? Pura2 cuek?
Aku tak lihai sandiwara.

Belakangan aku juga mengatur padat jadwal main ku dengan teman2 ku.
Aku sebut saja itu sekedar membalancekan rinduku.
Walau saat bersama mereka pun aku berkali2 mengecek HP ku, barang kali kau menghubungi J

Aku mulai teringat saat kau disini.. aku mulai tersenyum kecil, aku ingat secara detail semuanya.
Apa aku berlebihan?
Mungkin…

Pernahkan kau merindukan aku walau Cuma sebentar?
Entah hanya sekedar rindu ocehan2 bawel ku??
Hahaha

Selamat malam pria ku, selamat beristirahat
Seperti biasa, aku akan kembali mendiskusikan mu kepada Tuhan…
Memohon sehat mu, memohon bahagia mu
Turut mengamini setiap doa mu dari sini
Semoga harimu lebih baik besok
Night dear..
I love you more and more everyday

Untuk Sahabatku Andriy


Selamat pagi sahabat baik ku :)
Sahabat yang sangat aku rasakan khawatir mu tentang aku...
Sahabat yang kau pasti tahu aku sedikit kesal dengan pertanyaan-pertanyaan nyeletuk mu.
Sahabat tempat aku berdebat, tentang apa saja.
Ya... kali ini kita tak mendapat titik sepakat.
Mungkin kau sedikit kecewa..
Aku merasa itu hanya kekhawatiran normal untuk aku, sahabat yang benar-benar kau jaga sejak kau kenali.
Bahkan semasa ospek pun masih teringat blezer mu aku pakai untuk menutupi rok ku.

Ya.. aku masih ingat.. aku pernah mendiamkan mu berhari-hari hanya karena kau bilang "laki-laki itu jangan di kejar Bili".
Aku marah saat itu, aku benar-benar tersinggung. Aku merasa kau tak sepaham dengan ku.
Saat ini, aku mulai memutar semuanya.
Semua yang kau katakan adalah sekedar menjagaku. Menyelamatkan aku dari sakit.

Ya.. aku mulai paham kau benci saat aku di sakiti.
 Ntah sudah berapa kali kau lihat aku menangis, hal yang sulit aku lakukan pada orang lain.

Masih ingat saat aku dimarahi di tempat magang??
Aku berusaha menahan air mataku, itu memalukan.
Tapi, aku bisa mengeluarkannya dengan mu.
Aku pakai jaketku, kau berikan helm ku.
Sepanjang jalan aku menangis. Kau sama sekali tak melarang.
Tak perduli anggapan orang yang mengira kita entah kenapa.



Ya.. aku tahu kau benci momen itu.


Masih ingat saat aku bercerita tentang sakit ku?? tentang ketakutan ku tentang kematian??
Ya.. kita hanya berdua di taman dekat kampus..
menghabiskan semua cerita.
kau hanya diam, memang ku dalam.
Aku tahu, saat itu kau pun merasakan ketakutan yang sama.
Saat kau berkali-kali searching tentang obat yang bisa menyembuhkan aku.


Masih ingat saat aku diperlakukan tidak baik oleh perempuan2 kelas itu? yang aku tak tahu apa salah ku??
aku tahu.. kau berontak karena aku hanya diam.


Masih ingat saat kau diam2 mengintip aku yang menangis karena di sakiti mantan ku?? di selingkuhi lagi?
aku tahu saat itu kau marah.

Masih ingat saat kau mengantar ku ke dokter kulit saat wajahku seperti alien karena salah produk??
Kau satu2 nya orang tempat aku berani menunjukan wajahku.
Kita keliling-keliling untuk mendapat perawatan terbaik.

Saat dunia berlaku tak adil padaku, aku tahu kau berontak. Meski kau sampaikan lewat komentar-komentar pedas mu, menurut mereka.

Banyak statemen ku yang kau sepakati, begitu pula denganmu.
Kita sering berdebat tentang cara pandang, tapi selalu mendapat jalan sepakat.
Sekarang??
Ada apa??
Aku tak ingin beradu argumen panjang langsung dengan mu tentang hal yang kita bicarakan saat ini. Bukannya ini sudah sangat lama kita debatkan??
 Aku ingin berdebat melalui tulisan dengan mu..
karena aku tahu.. saat aku membantah, kau akan mengalah bukan menyerah.

Aku tahu.. kau hanya khawatir sahabat :)
Kau takut aku sakit lagi??
Aku tahu kau tak cukup bisa mempercayai orang lain akan menjaga ku seperti kau menjaga ku.
Aku tahu kau hanya takut aku berada pada orang yang salah.
Ya.. aku tahu, kau mulai bosan melihat aku menangis.

Tapi sampai kapan??
Sudah berapa nama lalu lalang di ceritaku??
Adakah nama yang tetap tinggal di cerita ku selama dia??
Masih ingat kapan pertama aku menceritakan dia padamu??
Aku lupa... itu sudah sangat lama.

Banyak nama yang singgah ndri... tapi hanya nama dia yg tetap tinggal.
Menurutmu pernahkah aku selemah ini??
Apa sahabatmu selemah ini?
Hei.. masih ingat kita bertengkar karena aku yang terlalu suka mengejar?
Pernahkah dia ku kejar?
Tidak.
Aku takut mendekatinya, aku pesimis.
Dia berbeda ndri..

kau sendiri yang bilang, mataku berbeda saat aku cerita tentang dia.
Kau pasti paham tentang aku.
Apa yang kau khawatirkan ndri??
Jarak??
Keseriusan??
Kau mulai khawatir tentang aku yang banyak berubah??
Ya.. aku paham...  saat kau bilang "kenapa Fale putus sama pacarnya yang udah bertahun-tahun itu? Karna LDR.. mau kaya gitu??"
Aku ingin menangis ndri saat kau bilang itu.
tapi aku mulai berubah..


Mari ambil posisi ternyaman dan coba dengar kan tulisan ku....

Dia mengajariku banyak hal

Dia mengajariku menahan diri.

Ya.. ini tentang hal yang paling kau khawatirkan ndri. Jarak.
Tahu kah kau berapa banyak rindu yang aku tahan untuknya?
Banyak.. sangat banyak.
Awal perpisahan aku sering menangis sendiri di sudut jendela kamar ku.
Menatap halaman ku dari atas.
"Masih lama.." bisik ku dalam hati.
Sering saat aku duduk sendiri di ruang tamu ku, teringat saat dia berada disini. Aku hafal betul posisi duduknya, sekalipun dia beberapa kali berpindah posisi. Aku hapal setiap spotnya.
 Saat aku belanja bulanan, melewati jalan tempat dia menungguku mengantar teman kesebrang jalan, ya.. aku masih hafal posisinya.
Aku hafal betul kami duduk di gereja menunggu hujan, jantungku tak beraturan. Itu deg-degan terhebat yang pernah aku rasakan, berat untuk mengeluarkan setiap huruf dari mulut ku, tapi aku harus..
Aku masih hafal tempat duduk aku mengaduk-aduk float ku. Bahkan aku hafal dimana dia memarkirkan keretanya.
Aku parah ndri, parah.
Aku tak pernah separah ini. Aku di luar kendali saat itu.

Boleh singkirkan logika mu sebentar?
Rasakan.. seberapa besar aku merindukan mahluk ajaib itu.
Aku pernah menuntut untuk di mengerti...
"Hei...!!! Aku rindu!!" gerutu ku dalam hati sendiri.
Lalu apa?
Aku belajar banyak hal darinya tanpa harus dia ajarkan.
Aku sering merenung tentang hidup sejak mencoba masuk ke dunianya.
Aku berfikir dalam...

Aku rindu?? Mau protes??
Lalu dia?
Jauh sebelum aku, aku yakin dia telah lulus dalam hal menahan rindu.. iya, menahan.
Seberapa besar sih rindu yang aku tahan di banding rindunya terhadap keluarga??
Ah.. rindu ku belum ada apa-apanya.
Aku bisa merasakan, bagaimana dia sangat mencintai ibunya...
Mau protes?
Ah.. tidak lagi.
Belakangan aku hanya melihat foto-foto menahan rindu ku.
Aku memadatkan aktivitasku.
Saat waktu benar-benar kosong, dan aku rindu.. aku lebih memilih memeluknya lewat doa.
Dia mengajariku tentang ini ndri..

Menahan marah...
Ya.. pertama kalinya aku sangat marah padanya.. sangat marah.
Lalu aku tersadar, tidak seharusnya aku marah saat dia butuh untuk aku dengar tentang rasa sakit yang dia rasakan.
Seharusnya aku menghargai jujurnya,.. dan saat ini, saat aku kecewa, aku hanya menghela nafas panjang, menahan marah ku..
berbicara baik-baik, bukan mematikan telfon tiba-tiba.

Dia mengajariku perasaan bukan tentang kata-kata manis

Seorang teman membuat aku tertawa geli dengan beberapa pertanyaan yang ku anggap aneh.
"Dia manggil kk apa?"
Manggil adek, jawabku.
"Kok gak manggil sayang gitu sih kak?"
Enggak dek,.. hehe.. jawabku sedikit lucu
"Memangnya dia gak sayang ya sama kk? Memangnya kk gak pengen di panggil sayang sama pacar kk?"
Ah.. bawel betul anak ini, kataku tertawa.
Aku berani menjawab sedikit panjang, menjawab tentang apa yang telah dia ajarkan padaku.


" Dek... dia itu beda dari cowok pada umumnya"
"bedanya dimana kak?" Pertanyaan yang sudah aku duga akan bersambung.

"Dia lebih ke perbuatan. Dia nunjukin, sayang itu gak sekedar ucapan. Aku tahu betul dia bukan  orang yang mau ngelakuin sesuatu tanpa ada tujuannya. Aku tahu dia bukan orang yang suka buang-buang waktu dengan orang yang gak penting menurutnya. Aku?? Dia sering membuang waktunya hanya untuk menghubungiku. Dia mengabariku saat dia sampai di rumah, dia bilang kalau ingin keluar sama teman-temannya, dia memarahiku kalau aku salah, dia menyemangatiku saat aku lemah, dia menyempatkan melirik hp nya di tengah jam kerja hanya untuk membalas pesan dariku. Pernah satu pagi dia menelfonku, hanya karena pesannya pending, belakangan dia sibuk dengan pekerjaan nya. Aku tahu dia pasti capek, tapi masih nyempatin menelfon sekalipun cuma sebentar. Sekalipun jauh, kk nyaman sama dia. Kk gak butuh orang yang boros janji dek.. Kk udah kenyang sama orang yang kaya gitu :)"

 
"Pernah doa bareng gak kak?"
ini anak lagi riset apa gimana sih.. kataku merasa lucu. Hahahaha 
"Gak dek" jawabku.
"Bukannya pacaran yang baik itu harus doa bareng kk?"
Aku merasa seperti seorang dosen cinta yang di tanya ini itu, saat itu. Hahahaha

"Kalau boleh jujur, kk pengen kaya kam.. bisa kesana kemari bareng-bareng. Tapi kk ga bisa dek.
Jadi, kalau kam tanya doa bareng, kan gak lucu kami telfonan terus berdoa.. Hahahha"


"Kalau saling mendoakan gitu pernah gak kk?"
 "Kk ga tau dek.. Tapi kk selalu doakan dia, gatau kalau dia.. Tapi kk punya kerinduan untuk ketemu di doa :)"

"Memangnya kk gak pernah nanya langsung?"
"Waduuuh... Kk ini siapa dek?? Hahhaa Kk ini cuma sebatas teman yang berkomitmen. Udah jadi istri sekalipun kk ga berhak mencapuri apa doa dia, kecuali dia yang kasi tau.." jawabku.

"Teman?? Kalian sekarang pacaran cuma gitu-gitu aja atau serius sih kk? maksud aku manuju pernikahan gitu?"
 "Iya teman, gak ada yang spesial selain komitmen kok dek di hubungan kami... masih sama kaya waktu kami jadi teman.. dan itu hal yang aku suka dari dia, karna aku juga bukan type yang bisa sweet gitu.
Pernikahan? Kalau di tanya mau nya kk, di ajak nikah sekarang pun kk ayok2 aja. Hahahaha"
kali ini aku benar-benar tertawa membalas pesan pertanyaan konyol itu.

"Serius kak? Hahahaha"
"Iya, serius. aku ngerasa, aku udah berhenti. Berhenti nyari. Capek kesana kemari, toh aku balik lagi kesitu. Tapi pernikahan itu gak cuma butuh modal serius dek. Modalnya banyak, keyakinan, kecocokan, kepercayaan, kesetiaan, kemapanan, kematangan, kedewasaan. Menjadi seorang istri itu sulit dek. Belum lagi harus menjadi orang tua :)
kk serius... kk masih diskusikan juga sama Tuhan tentang keseriusan kk..
banyak hal yang masih harus kk perjuangkan dek..
kk belum cukup dewasa untuk jadi istri, kk belum siap ninggalin dunia bebas kk, kk masih berjuang memantaskan diri juga. Masih banyak hal yang mau kk pelajari dari dia dek.."

"Boleh tau gak kk apa yg kk gumulkan?"
huft.. ini kan prifasi ku, aku mulai menggerutu
lama gak aku balas..
dia balik nanya
"Boleh lah kak.. aku belajar banyak dari kk.. aku pengen tau"
Oke, kali ini aku mulai menguap.. jam sudah hampir tengah malam.
" Hehehe.. kalau pergumulan itu kk ga bisa bagi dek... tapi kk mau bilang, pilih orang yang bisa buat kam jadi pribadi yang lebih baik tanpa dia minta. Yang buat kam nyaman juga. Abaikan masa lalunya, karna gak gampang buat dia berjuang ninggalin masa lalu yang pasti menyenangkan itu.
jujur, sampai sekarang pun kk gatau apa dia sayang atau enggak sama kk..
Apa dia cuma iseng atau gimana
Tapi kk terus mendoakan hubungan kami.. kk percaya Tuhan tau apa yg di hatinya, dan Tuhan akan ngasi tau sama kk.. mendoakan dia juga secara khusus.
sambil kk juga belajar persiapkan diri untuk hal yg kk doakan"

"Apa aja kak persiapannya"
Oke, kali ini mata ku kaya ada lem nya. udah berat.
oke.... oke..... kali ini benar2 pertanyaan terahir.





"Kk berusaha mempelajari dia setiap hari,
apa yang dia suka dan apa yang gak.
Apa yang harus dia pertahankan, dan apa yang harus kk tarik paksa dari dia dengan cara yang bisa dia terima :)
kk mulai belajar menyingkronkan dunia kk dengan dunia dia.
Belajar mempelajari cara pandang dia, cara berbicara dengan dia.
Belajar cara nyampein hal kk tau dia gak suka, tapi dia harus tau.
Belajar menetralkan emosinya.
Belajar makanan apa yang dia suka.
Apa hobinya.Apa mimpinya
Belajar pura-pura gak tau untuk hal yg dia gak mau kk tau.
Belajar sabar untuk setiap proses
Belajar juga gimana jadi menantu yg baik untuk ibu yg sangat dia cintai.
Belajar jadi kk untuk adeknya.
Belajar jadi perempuan yg bisa  dia banggain
banyak lagi dek..
jadi, kk serius.. tapi kk masih butuh waktu untuk belajar.
dan apa pun endingnya, kk gak akan pernah nyesal mempelajari itu semua..
Setidaknya, kk pernah berusaha belajar jadi yg terbaik :)"


untungnya interview ini lewat media sosial, aku ga bisa bayangin gimana kalau lewat sms. bisa jual baju 1 lemari buat pulsanya. Hahahahaha

Aku yakin, pertanyaan2 itu hal yang sama dengan pertanyaan mu.
Sekarang apa kau masih khawatir??

oke, aku lanjutkan

Dia mengajariku masa bodoh   

Ini bukan hal yang buruk kok ndri.
ya.. bukannya kau juga sering marah sama ku tentang hal ini.
aku yang terlalu memusingkan apa kata orang.

Belum bosan membaca kan??
aku yakin kalau kita membahas ini secara langsung pagi ke pagi juga belum tentu selesai. Hahaha
Jadi ini belum seberapa
Masih panjang. selow lek.. Hahahaha

Aku punya teman baru di kampus, Venny namanya. Ginting juga. Tak perlu aku jelaskan gimana cerewetnya mahluk ginting itu. kau jauh lebih paham tentang ini kan. Hahahha
Sama halnya dengan mu, dia sering curhat sama ku.
Tentang mantannya yg beda agama.
Tapi, aku tak pernah cerita apa-apa ke dia.
Tapi pernah 1 malam, dia tanya.
"M itu siapa nak?" tanya nya.
"Mikhael nak, knp?"
"siapa mu?"
"calon abg mu nak.. hahahaha"
"eh... adanya pacarmu.. mau kali dia sama orang gilak hhahahaha"
candaan kecil yg menuju serius waktu dia bilang
"kok gak pernah kau bawak?"
"Jauh dia nak... di tanggerang sana.. kalo tiap hari dia jemput aku, gak di lamar2 aku nanti,,, hahahaha" jawabku
"udah lama?"
"baru lagi nak.. masih fresh lah.. hahaha"
"senang kau sama dia?"
"senanglah.. kok gak, ngapai di pertahankan"
"sanggup kau senang jauhan gitu? tau kau ngapain dia disana? harus jelas kau.
apa bedanya kau sama pelacur gajah mada sana? jangan mau di jadikan cuma untuk penghibur nak"
aku tersentak.
kata2 seperti itu asing buat ku.
air mataku tiba2 tumpah
"pelacur???" berkali-kali ku baca itu berulang-ulang
"apa iya aku cuma penghibur?" aku mulai lagi dengan kebiasaan lama ku memusingkan omongan orang.
ini bukan pertama kalinya aku di goncangkan omongan2 pahit.
"Panca aja lah bil.. dia kan selalu ada untuk mu" Kina.

"dengar kata orang gak ada habisnya dek" itu katanya saat aku tanya pendapatnya tentang profesi model.
Ya.. aku cuma punya dua tangan, cuma bisa nutup 2 telinga ku, ga bisa nutup mulut semua orang.

"kam itu terlalu nyalahin diri, sementara orang kalau ga bisa ya udah gabisa.. gak di paksain" itu katanya.
Iya, aku gak pernah jadi aku ndri selama ini.
Aku terlalu memusingkan kesenangan orang lain.
Saat masuk ke dunia dia, aku mulai menata hidup
Aku mulai membagi hidupku untuk aku.
Mulai fokus ke mimpi ku, tanpa perduli orang bilang apa.

Tenanglah kawan... aku ada di orang yang tepat.
Orang yang bisa menjaga ku sekalipun dari jauh.. :)
Orang yang menjadikan aku pribadi yang lebih baik

Aku tau kau pasti tau pergumulan yg masih aku terka2 sampai sekarang....
tenanglah kawan.. waktu akan menjawab semuanya.
Aku tak pernah seberani ini.
Aku siap untuk gagal kalau memang harus.
Aku ikhlas kehilangan kalau memang harus.

Di ujung tulisan ini, aku mau bilang
Doakan aku, amini harapan2 ku..
:)

Benang Nadi



Ada saat dimana kita butuh diam.
Benar-benar diam.
Mengheningkan kericuhan hati dan pikiran.
Hanya diam..
Melatakkan telinga di atas pergelangan tangan, menikmati nada denyutan nadi.
Dengar detak demi detak
Dia berdenyut secara teratur.
Tidak cepat maupun lambat.
Bagaimana jika dia berhenti 1 detak saja?
Siapkah kita?

Aku aktif di beranda social media ku,
Menatap heran untuk status-status putus asa.
Status yang mengutuki diri sendiri untuk mati.

Ibuku adalah tenaga kesehatan, rintihan orang berjuang untuk memperjuangkan hidup bukan pemandangan langka bagiku.
Seorang ibu yang meraung kesakitan saat melahirkan, mempertaruhkan nyawa.
Kadang mereka tak sadarkan diri beberapa menit, kemudian menyemangati dirinya sendiri untuk tetap hidup, berperang dengan kematian “aku harus tetap hidup untuk melihat anak ku tumbuh besar” katanya.

Atau orang-orang yang mengidap penyakit mematikan leukemia.
Penyakit yang sudah menjadi rahasia umum tak punya harapan sembuh, bahkan hanya memiliki kesempatan hidup sebentar.. sangat sebentar.

Seorang gadis kecil, Grace namanya. Usianya sekitar 8 tahun.
Tubuh yang terlalu kecil untuk penyakit sebesar itu.
Dia anak yang periang.
Semangatnya seolah dia tak pernah merasa sakit di tubuhnya.
Tubuh yang terlalu kecil menerima suntikan suntikan tajam itu.
Gadis yang seharusnya berada di luar menaiki ayunan atau saling kejar dengan temannya.
Dia tidak… tubuhnya terlalu lemah terjamah dunia luar.
Tapi semangatnya mengalahkan aku, wanita 22 tahun.
Wanita yang bisa sesuka hati melangkah kaki.
Wanita yang bebas berbicara dengan siapa saja, melakukan apa pun yang aku mau.
Sampai saat aku lihat dia benar-benar menangis.
Saat dia berada di fase seperti mayat hidup.
Tak dapat menggerakkan tubuhnya sedikit pun.
Dia hanya tergeletak lemah di tempat tidurnya.
Tawanya tak lagi menghiasi rumah itu.
Dia hanya bilang “sakit bik..” setiap ibuku datang menusukan jarum ke tubuhnya.
Sampai satu hari, dia meminta untuk di bawa ke kampung, bertemu dengan saudaranya.
Saat itu kondisinya sedikit baik.
Saat di kampung, setelah bertemu dengan saudaranya dia kritis, kemudian meninggal dunia.
Rumahnya di padati teman-teman sekolahnya.
Teman-teman yang sangat rindu main sama Grace.
Yang rindu canda Grace.
Dia anak yang benar-benar luar biasa menurutku, seperti namanya.. dia pembawa berkat, termasuk bagiku.
Tersadar betapa beruntungnya aku dengan nafas yang gratis ini.
Dengan denyut nadi yang teratur ini.

Pertanyaan besar pernah singgah di fikiranku,
Kenapa bukan orang-orang yang menghujani dirinya dengan kutukan agar nyawanya di cabut itu saja yang berada di posisi grace?
Kenapa nafas mereka tak di tukar saja?
Orang-orang yang tak menghargai benang nadi yang kapan saja bisa putus itu hanya karena keadaan tak sesuai harapan.
Karena hidup yang sesaat terlihat kacau.

Coba kembali benar-benar diam.
Kembali menikmati nada benang nadi itu.
Seberuntung apakah kita saat ini?

Lorong Bernama Takdir


Apa yang terjadi pada benih yang kita tanam sore tadi pada malam hari..?
Saat kita semua terlelap..
Saat kita bangun, dia sudah tumbuh 2cm dari tanah.

Pernahkah kalian mencoba bertanya kapan dia mulai membelah tanah?
Atau mengamati dia tumbuh dari centi ke centi?
Atau kelopak yang telah mekar yang masih kuncup saat kita tertidur?

Atau pernahkah kalian bertanya kemana setiap semut membawa butiran gula yang kita jatuhkan?
Tentang bagaimana cara ikan saat tidur? Apakah mereka akan terapung atau malah tenggelam? Kapan mereka bangun, kalau setiap kita melihat mereka selalu sedang lincah berenang kesana kemari.

Atau tentang perasaan sebatang pohon yang harus rela melepas setiap helai daunnya?

Tentang bagaimana si cantik raflesia dapat bertahan hidup di tepi jurang yang tak terawat?

Pernahkan bertanya apakah jangkrik tidak kesepian hidup di gelapnya sawah?

apakah matahari punya alarm, sehingga dia tak pernah telat bangun?

Tentang bunglon yang punya stok setiap warna? Dimana dia menyimpan cat-cat itu?

Atau bertanya kapan helai demi helai rambut kita mulai memanjang?

Aku sering. Dulu.

Mungkin aku orang yang terlalu memusingkan banyak hal. Hal yang bukan bagian ku.
Saat aku dewasa, akan jadi seperti apa aku?
Berapa usia yang diberikan padaku?
Siapa orang yang akan selalu ada disamping ku, saat aku menutup dan membuka mata?
Hal-hal yang bukan bagian ku.

Kali ini tentang seseorang yang sering aku diskusikan dengan Tuhan pagi hari.
Tak terlalu berbeda saat kita berdiskusi dengan manusia.
Ya, ambil waktu tenang, waktu dimana semua isi rumah mu sedang asik dengan mimpinya.
Saat matahari pun belum bangun.
Kau akan bisa merasakan Dia berbicara kepada mu.


Aku di Uji….
           
Menurutku bukan hal yang harus dibanggakan ketika aku dipilih menjadi pelayan.
Banyak ucapan yang harus aku pertanggung jawabkan tentunya.
Aku selalu menekankan pada diri ku aku mencintai Yesus lebih dari apa pun didunia ini.
Pernah di satu pagi, aku berdiskusi sangat lama tentang orang itu.

Aku seperti mendapat pertanyaan mengejutkan dihatiku..

“Bili… apakah kau mencintai Aku?”
“Tentu Tuhan, aku sangat mencintaimu”
“Lalu, siapa lagi yang kau cintai selain Aku?”
“Orang tuaku, Adikku, dan dia Tuhan”
“Orang tua dan adik mu adalah kepunyaan mu yang jelas aku berikan, lalu bagaimana jika dia tak ku berikan untuk mu, apakah kau akan tetap mencintai Aku?”

Aku terdiam lama… sangat lama…
Air mata ku mulai terasa deras membasahi pipiku…
Aku selalu berdoa dalam hati, tapi kali ini aku bersuara pelan…

“Aku sangat mencintainya Tuhan…”

Aku sering berdoa disudut kamar ku, lalu tangan ku aku letakkan di tempat tidurku…
Kembali lagi pertanyaan itu mengganggu diam ku

“Apakah kau tetap mencintai Ku, bila kalian aku takdirkan tak bersama?”

Kali ini, tangis ku makin menjadi..
Kepala yang dari tadi tegar tegak kini terjatuh di lipatan tangan ku, aku tak kuat.
Aku kembali bersuara…

“aku mencintainya Tuhan.. aku mencintainya… aku mencintainya”

Sekali lagi pertanyaan itu datang…
Berbeda…

“Iya Tuhan, aku akan tetap mencintai Mu..”

Saat itu aku tahu betul, iman ku sedang benar-benar di uji.
Tentang semua yang aku ucapkan selama ini, tentang aku yang selalu bilang jangan mencintai lebih dari cinta kita kepada Tuhan..
Ya.. mungkin saat itu ringan aku ucapkan karena aku sedang sendiri.
Berbeda saat hati ku sedang benar-benar jatuh pada seseorang.

Seseorang yang membuat aku benar-benar berhenti, lalu Tuhan mau ambil gitu aja??
Terus kenapa Tuhan harus ngasi aku harapan?
Kenapa Tuhan buat seolah semua indah?
Kenapa Tuhan izinkan kami berstatus pacaran?
Aku kan gak pernah maksa Tuhan buat aku jadi pacar dia.. menghayal kaya gitu aja aku ga pernah.
Aku kan Cuma minta Tuhan nunjukin apa yang Tuhan mau
Terus Tuhan kaya ngasi jalan
Terus mau ambil seenaknya?

Pagi itu aku sedikit protes,.. diskusi yang sangat panjang.

Bukan kah sama seperti Abraham, yang Tuhan minta anak yang sangat ia kasihi setelah menantinya berpuluh tahun, lalu Tuhan minta begitu saja?
Tidakkah Abraham bergumul lebih besar dari pada aku pagi itu?
Tentu.
Tapi, dia tetap beriman.
Bahkan dia mengatakan pada anaknya, "Tuhan telah menyediakan persembahan"



Semua ku ahiri dengan “Ya.. apa pun yang Tuhan mau di hidupku, aku rela Tuhan,.. Tuhan  pasti tahu kalau Tuhan ambil dia dari aku, itu sangat sakit.. tapi aku percaya Tuhan punya rencana lain.. bantu aku Tuhan untuk mengerti apa pun yang Tuhan mau untuk aku”

Popular Posts

Copyright 2009 Coretan Wanita Senja. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates