RSS

Benang Nadi



Ada saat dimana kita butuh diam.
Benar-benar diam.
Mengheningkan kericuhan hati dan pikiran.
Hanya diam..
Melatakkan telinga di atas pergelangan tangan, menikmati nada denyutan nadi.
Dengar detak demi detak
Dia berdenyut secara teratur.
Tidak cepat maupun lambat.
Bagaimana jika dia berhenti 1 detak saja?
Siapkah kita?

Aku aktif di beranda social media ku,
Menatap heran untuk status-status putus asa.
Status yang mengutuki diri sendiri untuk mati.

Ibuku adalah tenaga kesehatan, rintihan orang berjuang untuk memperjuangkan hidup bukan pemandangan langka bagiku.
Seorang ibu yang meraung kesakitan saat melahirkan, mempertaruhkan nyawa.
Kadang mereka tak sadarkan diri beberapa menit, kemudian menyemangati dirinya sendiri untuk tetap hidup, berperang dengan kematian “aku harus tetap hidup untuk melihat anak ku tumbuh besar” katanya.

Atau orang-orang yang mengidap penyakit mematikan leukemia.
Penyakit yang sudah menjadi rahasia umum tak punya harapan sembuh, bahkan hanya memiliki kesempatan hidup sebentar.. sangat sebentar.

Seorang gadis kecil, Grace namanya. Usianya sekitar 8 tahun.
Tubuh yang terlalu kecil untuk penyakit sebesar itu.
Dia anak yang periang.
Semangatnya seolah dia tak pernah merasa sakit di tubuhnya.
Tubuh yang terlalu kecil menerima suntikan suntikan tajam itu.
Gadis yang seharusnya berada di luar menaiki ayunan atau saling kejar dengan temannya.
Dia tidak… tubuhnya terlalu lemah terjamah dunia luar.
Tapi semangatnya mengalahkan aku, wanita 22 tahun.
Wanita yang bisa sesuka hati melangkah kaki.
Wanita yang bebas berbicara dengan siapa saja, melakukan apa pun yang aku mau.
Sampai saat aku lihat dia benar-benar menangis.
Saat dia berada di fase seperti mayat hidup.
Tak dapat menggerakkan tubuhnya sedikit pun.
Dia hanya tergeletak lemah di tempat tidurnya.
Tawanya tak lagi menghiasi rumah itu.
Dia hanya bilang “sakit bik..” setiap ibuku datang menusukan jarum ke tubuhnya.
Sampai satu hari, dia meminta untuk di bawa ke kampung, bertemu dengan saudaranya.
Saat itu kondisinya sedikit baik.
Saat di kampung, setelah bertemu dengan saudaranya dia kritis, kemudian meninggal dunia.
Rumahnya di padati teman-teman sekolahnya.
Teman-teman yang sangat rindu main sama Grace.
Yang rindu canda Grace.
Dia anak yang benar-benar luar biasa menurutku, seperti namanya.. dia pembawa berkat, termasuk bagiku.
Tersadar betapa beruntungnya aku dengan nafas yang gratis ini.
Dengan denyut nadi yang teratur ini.

Pertanyaan besar pernah singgah di fikiranku,
Kenapa bukan orang-orang yang menghujani dirinya dengan kutukan agar nyawanya di cabut itu saja yang berada di posisi grace?
Kenapa nafas mereka tak di tukar saja?
Orang-orang yang tak menghargai benang nadi yang kapan saja bisa putus itu hanya karena keadaan tak sesuai harapan.
Karena hidup yang sesaat terlihat kacau.

Coba kembali benar-benar diam.
Kembali menikmati nada benang nadi itu.
Seberuntung apakah kita saat ini?

Lorong Bernama Takdir


Apa yang terjadi pada benih yang kita tanam sore tadi pada malam hari..?
Saat kita semua terlelap..
Saat kita bangun, dia sudah tumbuh 2cm dari tanah.

Pernahkah kalian mencoba bertanya kapan dia mulai membelah tanah?
Atau mengamati dia tumbuh dari centi ke centi?
Atau kelopak yang telah mekar yang masih kuncup saat kita tertidur?

Atau pernahkah kalian bertanya kemana setiap semut membawa butiran gula yang kita jatuhkan?
Tentang bagaimana cara ikan saat tidur? Apakah mereka akan terapung atau malah tenggelam? Kapan mereka bangun, kalau setiap kita melihat mereka selalu sedang lincah berenang kesana kemari.

Atau tentang perasaan sebatang pohon yang harus rela melepas setiap helai daunnya?

Tentang bagaimana si cantik raflesia dapat bertahan hidup di tepi jurang yang tak terawat?

Pernahkan bertanya apakah jangkrik tidak kesepian hidup di gelapnya sawah?

apakah matahari punya alarm, sehingga dia tak pernah telat bangun?

Tentang bunglon yang punya stok setiap warna? Dimana dia menyimpan cat-cat itu?

Atau bertanya kapan helai demi helai rambut kita mulai memanjang?

Aku sering. Dulu.

Mungkin aku orang yang terlalu memusingkan banyak hal. Hal yang bukan bagian ku.
Saat aku dewasa, akan jadi seperti apa aku?
Berapa usia yang diberikan padaku?
Siapa orang yang akan selalu ada disamping ku, saat aku menutup dan membuka mata?
Hal-hal yang bukan bagian ku.

Kali ini tentang seseorang yang sering aku diskusikan dengan Tuhan pagi hari.
Tak terlalu berbeda saat kita berdiskusi dengan manusia.
Ya, ambil waktu tenang, waktu dimana semua isi rumah mu sedang asik dengan mimpinya.
Saat matahari pun belum bangun.
Kau akan bisa merasakan Dia berbicara kepada mu.


Aku di Uji….
           
Menurutku bukan hal yang harus dibanggakan ketika aku dipilih menjadi pelayan.
Banyak ucapan yang harus aku pertanggung jawabkan tentunya.
Aku selalu menekankan pada diri ku aku mencintai Yesus lebih dari apa pun didunia ini.
Pernah di satu pagi, aku berdiskusi sangat lama tentang orang itu.

Aku seperti mendapat pertanyaan mengejutkan dihatiku..

“Bili… apakah kau mencintai Aku?”
“Tentu Tuhan, aku sangat mencintaimu”
“Lalu, siapa lagi yang kau cintai selain Aku?”
“Orang tuaku, Adikku, dan dia Tuhan”
“Orang tua dan adik mu adalah kepunyaan mu yang jelas aku berikan, lalu bagaimana jika dia tak ku berikan untuk mu, apakah kau akan tetap mencintai Aku?”

Aku terdiam lama… sangat lama…
Air mata ku mulai terasa deras membasahi pipiku…
Aku selalu berdoa dalam hati, tapi kali ini aku bersuara pelan…

“Aku sangat mencintainya Tuhan…”

Aku sering berdoa disudut kamar ku, lalu tangan ku aku letakkan di tempat tidurku…
Kembali lagi pertanyaan itu mengganggu diam ku

“Apakah kau tetap mencintai Ku, bila kalian aku takdirkan tak bersama?”

Kali ini, tangis ku makin menjadi..
Kepala yang dari tadi tegar tegak kini terjatuh di lipatan tangan ku, aku tak kuat.
Aku kembali bersuara…

“aku mencintainya Tuhan.. aku mencintainya… aku mencintainya”

Sekali lagi pertanyaan itu datang…
Berbeda…

“Iya Tuhan, aku akan tetap mencintai Mu..”

Saat itu aku tahu betul, iman ku sedang benar-benar di uji.
Tentang semua yang aku ucapkan selama ini, tentang aku yang selalu bilang jangan mencintai lebih dari cinta kita kepada Tuhan..
Ya.. mungkin saat itu ringan aku ucapkan karena aku sedang sendiri.
Berbeda saat hati ku sedang benar-benar jatuh pada seseorang.

Seseorang yang membuat aku benar-benar berhenti, lalu Tuhan mau ambil gitu aja??
Terus kenapa Tuhan harus ngasi aku harapan?
Kenapa Tuhan buat seolah semua indah?
Kenapa Tuhan izinkan kami berstatus pacaran?
Aku kan gak pernah maksa Tuhan buat aku jadi pacar dia.. menghayal kaya gitu aja aku ga pernah.
Aku kan Cuma minta Tuhan nunjukin apa yang Tuhan mau
Terus Tuhan kaya ngasi jalan
Terus mau ambil seenaknya?

Pagi itu aku sedikit protes,.. diskusi yang sangat panjang.

Bukan kah sama seperti Abraham, yang Tuhan minta anak yang sangat ia kasihi setelah menantinya berpuluh tahun, lalu Tuhan minta begitu saja?
Tidakkah Abraham bergumul lebih besar dari pada aku pagi itu?
Tentu.
Tapi, dia tetap beriman.
Bahkan dia mengatakan pada anaknya, "Tuhan telah menyediakan persembahan"



Semua ku ahiri dengan “Ya.. apa pun yang Tuhan mau di hidupku, aku rela Tuhan,.. Tuhan  pasti tahu kalau Tuhan ambil dia dari aku, itu sangat sakit.. tapi aku percaya Tuhan punya rencana lain.. bantu aku Tuhan untuk mengerti apa pun yang Tuhan mau untuk aku”

Popular Posts

Copyright 2009 Coretan Wanita Senja. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates