Apa yang terjadi pada benih yang kita tanam sore tadi pada malam hari..?
Saat kita
semua terlelap..
Saat kita
bangun, dia sudah tumbuh 2cm dari tanah.
Pernahkah
kalian mencoba bertanya kapan dia mulai membelah tanah?
Atau
mengamati dia tumbuh dari centi ke centi?
Atau kelopak
yang telah mekar yang masih kuncup saat kita tertidur?
Atau
pernahkah kalian bertanya kemana setiap semut membawa butiran gula yang kita
jatuhkan?
Tentang
bagaimana cara ikan saat tidur? Apakah mereka akan terapung atau malah tenggelam?
Kapan mereka bangun, kalau setiap kita melihat mereka selalu sedang lincah
berenang kesana kemari.
Atau tentang
perasaan sebatang pohon yang harus rela melepas setiap helai daunnya?
Tentang
bagaimana si cantik raflesia dapat bertahan hidup di tepi jurang yang tak
terawat?
Pernahkan
bertanya apakah jangkrik tidak kesepian hidup di gelapnya sawah?
apakah matahari punya alarm, sehingga dia tak pernah telat bangun?
Tentang
bunglon yang punya stok setiap warna? Dimana dia menyimpan cat-cat itu?
Atau bertanya
kapan helai demi helai rambut kita mulai memanjang?
Aku sering.
Dulu.
Mungkin aku
orang yang terlalu memusingkan banyak hal. Hal yang bukan bagian ku.
Saat aku
dewasa, akan jadi seperti apa aku?
Berapa usia
yang diberikan padaku?
Siapa orang
yang akan selalu ada disamping ku, saat aku menutup dan membuka mata?
Hal-hal yang
bukan bagian ku.
Kali ini
tentang seseorang yang sering aku diskusikan dengan Tuhan pagi hari.
Tak terlalu
berbeda saat kita berdiskusi dengan manusia.
Ya, ambil
waktu tenang, waktu dimana semua isi rumah mu sedang asik dengan mimpinya.
Saat
matahari pun belum bangun.
Kau akan
bisa merasakan Dia berbicara kepada mu.
Aku di Uji….
Menurutku
bukan hal yang harus dibanggakan ketika aku dipilih menjadi pelayan.
Banyak
ucapan yang harus aku pertanggung jawabkan tentunya.
Aku selalu
menekankan pada diri ku aku mencintai Yesus lebih dari apa pun didunia ini.
Pernah di
satu pagi, aku berdiskusi sangat lama tentang orang itu.
Aku seperti
mendapat pertanyaan mengejutkan dihatiku..
“Bili… apakah kau mencintai Aku?”
“Tentu Tuhan, aku sangat mencintaimu”
“Lalu, siapa lagi yang kau cintai selain Aku?”
“Orang tuaku, Adikku, dan dia Tuhan”
“Orang tua dan adik mu adalah kepunyaan mu yang jelas aku
berikan, lalu bagaimana jika dia tak ku berikan untuk mu, apakah kau akan
tetap mencintai Aku?”
Aku terdiam lama… sangat lama…
Air mata ku mulai terasa deras membasahi pipiku…
Aku selalu berdoa dalam hati, tapi kali ini aku bersuara
pelan…
“Aku sangat mencintainya Tuhan…”
Aku sering berdoa disudut kamar ku, lalu tangan ku aku
letakkan di tempat tidurku…
Kembali lagi pertanyaan itu mengganggu diam ku
“Apakah kau tetap mencintai Ku, bila kalian aku takdirkan
tak bersama?”
Kali ini, tangis ku makin menjadi..
Kepala yang dari tadi tegar tegak kini terjatuh di lipatan
tangan ku, aku tak kuat.
Aku kembali bersuara…
“aku mencintainya Tuhan.. aku mencintainya… aku
mencintainya”
Sekali lagi pertanyaan itu datang…
Berbeda…
“Iya Tuhan, aku akan tetap mencintai Mu..”
Saat itu aku
tahu betul, iman ku sedang benar-benar di uji.
Tentang
semua yang aku ucapkan selama ini, tentang aku yang selalu bilang jangan
mencintai lebih dari cinta kita kepada Tuhan..
Ya.. mungkin
saat itu ringan aku ucapkan karena aku sedang
sendiri.
Berbeda saat
hati ku sedang benar-benar jatuh pada seseorang.
Seseorang
yang membuat aku benar-benar berhenti, lalu Tuhan mau ambil gitu aja??
Terus kenapa
Tuhan harus ngasi aku harapan?
Kenapa Tuhan
buat seolah semua indah?
Kenapa Tuhan
izinkan kami berstatus pacaran?
Aku kan gak
pernah maksa Tuhan buat aku jadi pacar dia.. menghayal kaya gitu aja aku ga
pernah.
Aku kan Cuma
minta Tuhan nunjukin apa yang Tuhan mau
Terus Tuhan
kaya ngasi jalan
Terus mau
ambil seenaknya?
Pagi itu aku
sedikit protes,.. diskusi yang sangat panjang.
Bukan kah sama seperti Abraham, yang Tuhan minta anak yang sangat ia kasihi setelah menantinya berpuluh tahun, lalu Tuhan minta begitu saja?
Tidakkah Abraham bergumul lebih besar dari pada aku pagi itu?
Tentu.
Tapi, dia tetap beriman.
Bahkan dia mengatakan pada anaknya, "Tuhan telah menyediakan persembahan"
Semua
ku ahiri dengan “Ya.. apa pun yang Tuhan mau di hidupku, aku rela Tuhan,..
Tuhan pasti tahu kalau Tuhan ambil dia
dari aku, itu sangat sakit.. tapi aku percaya Tuhan punya rencana lain.. bantu
aku Tuhan untuk mengerti apa pun yang Tuhan mau untuk aku”







0 komentar:
Posting Komentar