RSS

Penantian di LAMPU MERAH


"Dia hanya berada diseberang jalan sana..
Namun karna begitu banyak kendaraan yang lewat, aku susah mengenalinya
Kami sedang menanti lampu merah di sudut jalan ini
Dengan begitu kami dapat lewat, bertemu dan bergandeng tangan ke ujung jalan sana..

Ntah jalan apa itu..
Kami hanya menamainya masa depan

Sebuah jalan yang benar-benar panjang
Sebuah jalan yang mungkin akan sangan melelahkan
Perjalanan yang akan mengubah helai demi helai rambut kami menjadi putih
Kulit kami mulai berkeriput,..
Dijalan itu akan kami mendapati beberapa orang
Hingga kami akan berjalan tidak lagi berdua, tapi berempat...

Hujan kami jadikan irama bagi nyanyian kami
Kami tak takut pada apa pun juga
Guntur?
Itu hanya gertakan!

Tapi.. aku masih berhayal tentang dia yang disebrang sana..
Siapa dia..
Siapa namanya..
Lama sekali lampu hijau ini mengenipkan matanya

Aku mulai lelah menunggu disebrang jalan ini..
Kadang berpikir untuk pergi dari sini sendiri.

Hari demi hari aku masih sibuk dengan penantianku dan rasa penasaranku tanpa berbuat apa pun
Malam berjumpa pagi dan pagi menyapa petang

Aku lihat malam mulai datang
Kegelapan semakin menutupi siapa dia
Namun aku lihat telunjuknya menunjuk bintang yang sama denganku.
Aku tersenyum kecil

Pagi menyapa kembali datang dan aku tau apa yang harus aku lakukan.
Aku harus mempersiapkan diri sebagai sosok yang pantas baginya.”

Rasa bersalahku....

“Kadang aku liat kau mah aneh.
Mantan kau udah move on,
aku yakin dia udah gak ada waktu untuk mikirin kau.
So kenapa kau masi mikirin dia,
menurud ku mending mikiri diri sendiri.” –Anam–

Terasa seperti ditampar memang dengan pesan singkat yang dikirim anam padaku malam itu.
Tapi, tak ada 1 kata pun yang salah dari pesan nya itu.
“Benar juga” pikirku dalam hati.
Aku telah terlalu lama membiarkan diriku berlarut dalam kesedihan, membawa rasa bersalah di dalam hati, ya.. rasa bersalah karena selama 2 bulan tak mampu mencintai dia.
Sementara apa kabar dengan dianmantanku..
Hei...!! dia sudah bahagia dengan pasangannya sekarang
“Trus apa yang kamu pikirkan sekarang?” tanyaku dalam hati..

“Perasaan adalah perasaan,
meski secuil, walau setitik hitam ditengah lapangan putih luas,
dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit,
kehilangan selera makan,
kehilangan semangat,
hebat sekali benda bernama perasaan itu.
Dia bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung,
Dan
disekejap berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang.”

Ya benar. Tidak semudah mengatakan untuk dapat melakukan.
Ada rasa yang teramat sakit di perasaan ini saat bayangan masa lalu itu mulai menyapa dalam kesunyian.
Ada rasa perih saat kami HARUS bertemu.
Ntah dengan cara apa aku harus menghindar dari semua perasaan perih ini.
Benda-benda kenangan itu pun masih tertata rapih dikamarku.
Berat sekali rasanya untuk membuangnya, bahkan memindahkannya saja pun aku tak sanggup.
Sebuah benda teman tidurku darinya pun masih tetap jadi teman tidurku.
Aku peluk erat, sakit sekali rasanya.
Gantungan kunci yang pernah aku hadiahi padanya yang kemudian dia kembalikan bersama semua yang pernah aku berikan itu aku jadikan hiasan di mobilku.
Apa yang terjadi padaku..

Bagaimana dengan mantanku yang lainnya?
Aku bahkan sama sekali tidak perduli.
Benda kenangan? Aku tak ingat lagi
Yang ada hanya perasaan benci.

Tapi, ada apa dengan yang ini.
Sakit sekali rasanya .

Trauma?
Aku pernah merasa lebih sakit dari ini.
Aku pernah di selingkuhi sahabat dekatku sendiri, aku pernah dipermainkan,aku pernah di bohongi selama 3 tahun, dan ini aku hanya diharuskan berpisah oleh perasaan yang tidak seimbang, perasaan yang tidak ingin menyakitinya lebih lama lagi... tapi rasanya sakit sekali.


Sampai kapan aku harus berlari dari kenangan dan perasaan ini.
Aku ingin menghadapi, menantang.
Tapi ini hanyalah benda kecil bernama perasaan.
Aku kuat menipu semua orang dengan gelak tawaku, namun bagaimana dengan benda kecil itu.
Dia sangat kuat!
Dia mampu membuat aku terbaring lemah, dia mampu membuat aku tak nafsu makan berhari-hari.

Namun pesan singkat anam menguatkan ku, menyadarkanku dari koma panjang .

Aku harus semangat, aku harus kuat.
Aku bisa.
Aku harus bisa memandang dia seperti biasa seperti dulu.
Aku harus buang perasaan yang menyiksa ku selama ini.
Aku harus bisa hidup normal lagi.

Kenapa Harus Tunggu Punya Pacar untuk Bahagia…?!

Seorang teman jauh, tak pernah bertemu.. suaranya saja pun tak pernah ku dengar.
Anam..
Begitu ku panggil dia
Ntahlah itu nama asli atau nama palsu, aku sama sekali tak perduli
Ntahlah bagaimana sosoknya, aku masa bodoh akan hal itu
Tapi dia membuat satu perubahan besar di sel sel otak ku yang tlah tertanam bertahun-tahun.
Di usia 22 tahun, usia yang banyak gadis mulai mengkhawatirkan pasangan hidup, termasuk aku “sebelumnya.”
5 bulan lalu aku memutuskan untuk mengahiri hubungan dengan seseorang yang pernah jadi salah satu teman terbaik ku.
Sedih…? Hancur…?
PASTI!!
Bahkan dua mantan terahirku pun tak ku tangisi saat putus walau sudah bertahun-tahun bersama.
Tapi yang ini aku sangat menangis, aku sangat terpukul.
Bahkan saat menulis artikel ini pun aku mencoba bersikap keras pada mata ku yang mulai ingin mengeluarkan air mata.
5 bulan aku memilih sendiri, menutup hati, trauma besar.
Banyak hati yang mencoba mendekat, tapi aku tutup rapat-rapat hati ku.
Ada ketakutan besar di hatiku, takut gagal.

“ Usia ku 22 tahun ini, usia 25 tahun aku harus menikah.. tapi dengan siapa?”

Pertanyaan yang sepanjang hari menghantui pikiran ku.
Semakin berat waktu aku harus menerima satu demi satu undangan pernikahan teman-teman ku dan harus datangi sendiri.

Aku hanya belum menemukan orang yang tepat, just it!
Tapi kenapa harus seribet ini…

Bahkan alasan utama ku malas ke mall adalah jelous liat mereka yang jalan berdua dengan pacar.
Setiap melewati taman dekat kampus ku, pilu rasanya teringat dulu aku sering disana bersamanya.
Melewati jalan-jalan yang dulu kami sering bercanda.
Kenyataan terpahit harus bertemu dia dalam kuantitas yang lumayan sering, karna satu organisasi dan kami sama-sama pengurus organisasi itu.

Aku tau saat ini dia telah menemukan orang lain untuk gantikan aku, Bahagia? Pasti. Aku bahagia lihat dia bahagia, bagaimana pun dia itu tetap jadi teman terbaik yang pernah aku miliki, teman berbagi cerita terbaik.
Kalau sedih..? Ntahlah. Sulit menjelaskan rasanya.

“Tuhan, kirimkan aku seorang teman yang mampu membuat aku melupakan semuanya ini, yang mampu kembalikan ceria ku lagi
Yang mampu jadi teman baik ku lagi..
Teman tempat aku bercerita lagi..
Aku kesepian Tuhan..”

Begitu isi doa ku saat malam mulai menyisa ku dengan sepinya.
Mungkin Dia mulai iba padaku, dia mengirimkan seorang teman.
Sedah lumayan lama ku kenal, tapi kami jarang komunikasi dulunya.
Seorang teman jauh, teman yang aku kenal lewat sebuah game online.
Lucu rasanya, hahahaha
Percaya gak percaya aku adalah gadis maniak game, dulunya.
Bahkan saat jam menunjukkan pukul 4 pagi, hanya akulah gadis yang berstatus online di akun yang aku punya.

Namanya anam, tinggal di salah satu kota di pulau jawa sana katanya.
Orang yang secara tidak sadar merubah pola pikirku, satu sms nya yang masih aku ingat sampai sekarang, dimalam minggu.
“ Andai kita satu kota, pasti udah aku ajak jalan kau”
“Ngapain” Tanya ku.
“ Jalan-jalan aja, seru-seruan”
“Hitung-hitung menghibur 2 orang jomblo”

Entah kenapa 1 kalimat itu seakan memutar arah pola piker ku 180 derajat. Membawa aku kedalam alam sadar, membangunkan aku dari semua kesedihan bodoh yang aku ratapi selama ini.

“kenapa aku harus sedih”
“Sebaik apa dia dibanding dengan seseorang yang telah di sediakan Tuhan di ujung sana untuk ku”
“Kenapa aku terlalu egois pada diriku selama ini”

Dia bilang, aku termasuk gadis yang cantik. Ntahlah itu benar atau hanya hobi kaum adam yang sekedar merayu. Hehehe
Dia seolah punya ilmu sugesti, semua yang dikatakannya seolah aku anggap benar.
Kenapa? Ntahlah..

Dia bilang tulisan ku bagus, yang aku anggap selama ini berantakan. Dan aku percaya.

Dia bilang aku punya bakat, dan harus terus menulis.
Memperlakukan aku seperti penulis-penulis hebat diluar sana.
Hei…! Aku gak sedang nulis, aku hanya sedang bercerita kehidupan sehari-hari.
Ntah mata dia yang buta, atau benar seperti itu, kembali aku jawab ntahlah..

Mulai membuka diri, walau hati masih sulit dibuka.
Mulai berbagi cerita, walau masih punya aturan-aturan batasan yang aku kurangi porsinya.
Mulai ke Mall dengan nyantai
Aku single dan Aku bahagia…!!
Seseorang itu akan datang, pasti.
Cuma waktu yang belum tepat untuk saat ini.
Dan aku percaya, Tuhan udah nyiapin waktu, tempat dan cara yang indah untuk kami dipertemukan.
Pasti.
So.. buat kamu yang masih punya pola piker seperti aku sebelumnya, ayo bangkit.
Aku menjadi Anam-anam berikutnya untuk kalian semua.
Mengajak kalian untuk bahagia di masa single ini.
Banyak hal yang bisa kita lakuin, girls.
Yuk lari bareng aku!!!

Popular Posts

Copyright 2009 Coretan Wanita Senja. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates