“Kadang
aku liat kau mah aneh.
Mantan
kau udah move on,
So
kenapa kau masi mikirin dia,
menurud
ku mending mikiri diri sendiri.” –Anam–
Terasa seperti ditampar memang dengan pesan singkat yang dikirim anam
padaku malam itu.
Tapi, tak ada 1 kata pun yang salah dari pesan nya itu.
“Benar juga” pikirku dalam hati.
Aku telah terlalu lama membiarkan diriku berlarut dalam kesedihan, membawa
rasa bersalah di dalam hati, ya.. rasa bersalah karena selama 2 bulan tak mampu
mencintai dia.
Sementara apa kabar dengan dianmantanku..
Hei...!! dia sudah bahagia dengan pasangannya sekarang
Hei...!! dia sudah bahagia dengan pasangannya sekarang
“Trus apa yang kamu pikirkan sekarang?” tanyaku dalam hati..
“Perasaan
adalah perasaan,
meski
secuil, walau setitik hitam ditengah lapangan putih luas,
dia
bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit,
kehilangan
selera makan,
kehilangan
semangat,
hebat
sekali benda bernama perasaan itu.
Dia
bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung,
Dan
disekejap
berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang.”
Ya benar. Tidak semudah mengatakan untuk dapat melakukan.
Ada rasa yang teramat sakit di perasaan ini saat bayangan masa lalu itu
mulai menyapa dalam kesunyian.
Ada rasa perih saat kami HARUS bertemu.
Ntah dengan cara apa aku harus menghindar dari semua perasaan perih ini.
Benda-benda kenangan itu pun masih tertata rapih dikamarku.
Berat sekali rasanya untuk membuangnya, bahkan memindahkannya saja pun aku
tak sanggup.
Sebuah benda teman tidurku darinya pun masih tetap jadi teman tidurku.
Aku peluk erat, sakit sekali rasanya.
Gantungan kunci yang pernah aku hadiahi padanya yang kemudian dia kembalikan bersama semua yang pernah aku berikan itu aku jadikan hiasan di mobilku.
Apa yang terjadi padaku..
Bagaimana dengan mantanku yang lainnya?
Aku bahkan sama sekali tidak perduli.
Benda kenangan? Aku tak ingat lagi
Yang ada hanya perasaan benci.
Tapi, ada apa dengan yang ini.
Sakit sekali rasanya .
Trauma?
Aku pernah merasa lebih sakit dari ini.
Aku pernah di selingkuhi sahabat dekatku sendiri, aku pernah
dipermainkan,aku pernah di bohongi selama 3 tahun, dan ini aku hanya diharuskan
berpisah oleh perasaan yang tidak seimbang, perasaan yang tidak ingin menyakitinya lebih lama lagi... tapi rasanya sakit sekali.
Sampai kapan aku harus berlari dari kenangan dan perasaan ini.
Aku ingin menghadapi, menantang.
Tapi ini hanyalah benda kecil bernama perasaan.
Aku kuat menipu semua orang dengan gelak tawaku, namun bagaimana dengan
benda kecil itu.
Dia sangat kuat!
Dia mampu membuat aku terbaring lemah, dia mampu membuat aku tak nafsu
makan berhari-hari.
Namun pesan singkat anam menguatkan ku, menyadarkanku dari koma panjang .
Aku harus semangat, aku harus kuat.
Aku bisa.
Aku harus bisa memandang dia seperti biasa seperti dulu.
Aku harus buang perasaan yang menyiksa ku selama ini.
Aku harus bisa hidup normal lagi.







0 komentar:
Posting Komentar