Hi li, pa kabar?
Baik.. :)
kerja dimana?
......
Ntah rasa kecewa itu masih dalam atau karna alasan apa aku selalu diam saat pertanyaan ini dilempar padaku.
1 bulan lulu aku melamar kesebuah perusahaan pengkreditan di Binjai. Hanya butuh waktu 40menit diperjalanan, karna kota binjai memang bebas dari kemacetan kecuali kalau hujan. :)
Itu adalah perusahaan yang sebenarnya tidak ingin aku masuki, karna cabang yang di Medan terlihat kecil kantornya, dan akupun tlah putus asa karna jobfair yg diadakan dikampus ternyata tidak ada yug jelas. Semua berkecimpung di dunia marketing dan itu bukan duniaku
Namun, karna desakan seseorang ahirnya ku lemparkan juga lamaranku kesana.
***
Sebulan kemudian, aku ditelfon perusahaan itu untuk mengikuti psikotes besoknya jam 10. Senang rasanya aku lulus berkas.. aku pun menelfon orang yang mengsuportku memasuki perusahaan itu, bahagia yang sama dirasakannya pula.
Besoknya aku pun datang dan betapa terkejutnya aku saat aku lihat hanya aku yg tak menggunakan jilbab. Rasa pesimispun timbul dihatiku, namun dengan semangat seseorang aku tetap melanjutkan tesnya. Tes yang membuat seluruh rambutku berdiri. Hitungan-hitungan yang luar biasa. Seperti mesin-mesin di dalam otakku yang selama ini mati tiba-tiba hidup rasanya.
***
Hallo...
Hallo, selamat siang dengan ibu Lixx
ya, saya sendiri.. siapa ini?
saya dari PT. XX ingin mengundang ibu kembali untuk mengikuti tes interview besok jam 8
(aku terdiam karna terkejut)
Hallo.....
Iya hallo,.
apakah ibu bersedia?
Iya..iya saya bersedia.. terimakasih (jawabku gembira)
Telfon dari kantor itu membuatku meneteskan air mata. Seakan tak percaya aku lulus di tes psikotes minggu lalu. Malamnya aku belajar habis-habisan, mempelajari semua prihal prusahaan, membaca artikel sukses dalam wawancara,mempersiapkan busana yang aku kenakan besok dan berdoa tentunya.
***
"Tuhan... hari ini aku akan mengikuti tes terahirku. Kalau aku boleh minta,aku ingin lulus di tes ini Tuhan
tapi, bukanlah kehendakku yang jadi
aku percaya Tuhan tau apa yang terbaik untukku
Tuhan punya rancangan indah untuk ku...
Kalau pekerjaan ini baik untukku, luluskanlah aku
jika tidak, tunjukkanlah jalanmu ya Tuhan..
Amin"
Sepenggal doa itu kuterbangkan kerumahNya pagi itu,sebelum aku berangkat. Ntah prasaan apa yang ku rasakan saat itu, hati kecilku menyuruh aku untuk brangkat senndiri dengan angkutan umum bukan di antar.
tapi aku tidak tau tempat kesana menggunakan angkutan umum, karna dari awalpun aku di antar oleh seseorang.
Jam menunjukkan pukul 07.15 dan dia belum datang juga menjemputku. Hubungan kami memang dingin beberapa hari ini.
07.20 aku lihat dia dari kejauhan,tapi kemungkinan aku akan telat tiba disana.
udah jam brapa ini, kita pasti telat.....
trus gimana lagi.. udah cepet naik..!
***
Tak biasanya aku memperhatikan speedmeternya saat berkendara. "haa.... 90km/jam" bisikku dalam hati.
tapi ntah kenapa saat itu aku hanya diam sambil membaca-baca bahan yang tlah ku persiapkan semalamnya.
Jantungku berdegup kencang, sekitar 5menit lagi akan sampai. Namun tiba-tiba.....
Gubrakkkkk!!!!! dunia terasa gelap, tak ada 1 suara pun ku dengar.
Perlahan-lahan mataku terbuka,kulihat seseorang berlari kearahku, kulihat banyak orang disekelilingku, aku tergeletak di aspal jalanan. Aku tak tau mereka siapa, ku lihat seseorang memegang catatan kecil tentang interviewku, tanganku mencoba meraihnya. Namun, orang yang berlari kearahku semakin dekat,dia menggendongku, kulihat garis kuatir di wajahnya, teriak kencangnya pada orang yang telah menabrak kami menambah kesadaranku.
"Aku gagal" ucapku dalam hati saat itu.
Sesampai di rumah sakit aku hanya diam. Airmata mewakili kecewaku, pedih luka di sekeliling kaki dan tanganku tak seberapa kecewa dalam dihatiku.
"Tuhan... kenapa seperti ini..
Aku telah mempersiapkan segalanya dari tadi malam..
kenapa Tuhan tega sama aku.."
tanya dalam itu meneglilingi pikiranku,menambah deras air mataku. Sakit sekali rasanya kecewa ini. Ku lihat kearah jam menunjukkan pukul 10.00
***
"Hallo.. PT.XX"
ya.. dengan siapa?
saya Lixx.. peserta interview hari ini, saya mengalami kecelakaaan
oia, nanti ibuk ikut tes berikutnya saja ya..
oh iya,.. kapan buk? (ternyata masih ada kesempatan,pikirku)
Nanti akan kami hubungi.
owh,begitu. terimakasih ya buk
kembali.
Percakapan itu tak cukup membuat tenang hatiku. Masih sangat terasa kecewa di hatiku. Minggu berlalu.. dan sampai saat ini, mereka tak kembali menelfon...
Ntah kemana perginya semangatku yang dulu. Sejak kejadian itu aku merasa seperti tak punya harapan lagi untuk mendapat pekerjaan.
aku mencoba merenungkan apa yang telah terjadi.
Aku dapati jawabannya.
Ini adalah jawaban dari sepenggal doa yang aku terbangkan sebelum aku berangkat interview.
pekerjaan ini tak baik untukku, Tuhan punya rencana lain untukku.
Tuhan ingin aku belajar untuk menerima.. Untuk percaya dan beriman
Tuhan ingin menguji seberapa tangguh imanku
apakah saat harapanku tak sejalan dengan keadaan aku akan meninggalkan-Nya
Tuhan memberiku penolakan, agar aku mensyukuripekerjaan sekecil apapun nantinya
Tuhan memberiku kekecewaan, agar aku menjadi lebih tangguh menghadapi beban lebih dari ini
Terimakasih Tuhan,.. Kau buat ku mengerti..
:)







0 komentar:
Posting Komentar