RSS

Tak Berjudul 2


Ini malam minggu, yang sebenarnya lebih nyaman aku sebut sabtu malam.
Tak beda dengan malam minggu dua bulan terakhir. Tanpa canda nya. Sunyi.
Sebenarnya ada undangan natal malam ini. Cuma karena badan ku yang terlalu di porsir seminggu ini, aku memilih untuk beristirahat di rumah.
Ya… melewati malam minggu bersama si-senja.
Perihku mala mini sedikit berkurang. Resep jitu adalah aku curhat pada Tuhan.
Dia seolah mengobati luka-luka itu, meski masih terasa sedikit pilu.
Mungkin ini saat yang tepat untuk aku bercerita pada mu senja. Aku sedikit lebih baik malam ini. Aku sanggup untuk bercerita.


Malam itu, 24 Desember. Tuhan mempertemukan aku secara langsung dengan orang yang selama ini sering aku pandangi hanya lewat layar datar.
Ia… orang yang buat aku bolak balik ke kamar mandi saat menceritakannya pada dewi di kost. Lalu dia tertawa dan bilang “Bili.. bili… masih nyeritain aja kau udah segerogi ini, aku ga berani bayangin kalau kau ketemu langsung.”
Ia.. orang yang buat aku setahun lebih bolak balik cerita ke kina mau nyerah tapi kembali lagi dan kina bilang “jangan bodoh Bili!”

Ntah apa yang Tuhan mau. Aku tak paham.
Awalnya Tuhan seolah memberi signal pada ku untuk melupakan. Untuk move up.
Bukan hal gampang yang harus aku jalani.
Itu sulit.. sangat sulit.
Menahan perasaan ku sendiri.
Tapi saat aku mulai bisa, Tuhan malah mempertemukan secara langsung.
Malam itu berulang-ulang aku cubit tangan ku sendiri.
Entah ini mimpi atau apa.
Yang aku fikir kepulangannya hanya bercanda seperti yang sering kami lakukan.
Tapi ini nyata.

Ya… aku melihatnya.
Ya.. aku menyentuh tangannya.
Aku dengar suaranya.
Aku lihat senyumnya.
Dia nyata senja… dia nyata…

Entah apa yang aku rasakan saat itu. Aku tak paham.
Pertemuan itu merusak semua tekad, usaha yang susah payah aku lakukan.
Semua kembali ke 0. Bahkan minus mungkin.

Benar-benar malam yang kacau menurutku.
Dewi dan kina bolak balik menghubungi malam itu.
Aku tahu, mereka akan kecewa padaku, pada sikap ku malam itu.
Sama halnya dengan ku.
Saat ku ceritakan pada kina, dia marah. Jelas sekali ekspresi kecewa mereka.
Maafkan aku sahabat ku..
Percayalah, ini tak semudah yang kalian kira.
Ini rumit!!!
_____________________________________________________________________________________________
Beberapa hari ini aku intens bertemu dengannya.
Binggung harus apa.
Aku tak mampu mengenali diri ku.
Untuk melihat dia saja aku tak berani.
Entah ini petaka atau bonus kecil.
Dia mengantar ku pulang sore itu.
Ada apa dengan ku??
Bukannya selama ini juga aku biasa di antar pulang??
Kenapa berbeda saat dia yg lakukan?
Mengumpulkan segudang keberanian. Aku membuka percakapan. Hanya di jawab hemat.
Yah.. mungkin dia masih kesal fikir ku.
Ya.. aku sendiri saja masih kesal sama diriku.
Malam nya, aku kirim pesan. Hanya di bls :D
Yah.. Mungkin aku tak di anggap lagi fikir ku.
Air hangat itu menetes lagi.
Ah… Aku kuat aku kuat teriak ku dihati.
Aku matikan lampu kamar ku.
Aku mencoba untuk tidur.
Tapi hati adalah hati.
Aku biarkan dia keluar. Semampunya. Sepuasnya.
Lalu aku tertidur.

Siang tadi, ibuku mendesak ku menghadiri pemakaman teman gereja ku.
Tanpa didesak pun harusnya aku disana.
Abang itu baik padaku.
Tapi, aku takut. Aku tahu dia pasti disana.
Ah.. cemen!!! Bentak ku pada diri sendiri.
Aku bereskan rumahku. Aku harus semangat.
Lalu aku pergi ke acara adat pemakaman itu.
Yah.. benar. Dia disana.
Berbeda.. aku sedikit bisa mengontrol hatiku.
Ya.. lagi2 aku percaya ini pekerjaan Tuhan.
Dia sembuhkan luka ku.
Sampai di malam ini, seseorang teman gereja ku nge-chat.
Dia menawariku pekerjaan sebagai adm.
Mungkin ini juga pekerjaan Nya.
Dia ingin aku menyibukkan diri mungkin.
Walaupun saat ini rasanya badan ku ingin aku belah jadi 10 bagian. Hahaha
Belakangan dia baik, entah karena apa.
Tapi.. masih sama seperti setahun ini.
Posisi orang itu belum juga terganti.
Entah aku sedang menunggu apa.
Tanpa fikir panjang aku langsung jawab “TIDAK” setiap di tawari teman berkenalan dengan pria lain.
Mereka ingin aku move up.

Mungkin aku harus lebih banyak belajar. Belajar membuka hati.
Dia itu hanya sekedar cinta pertama ku.
Dia tak berhak buat hidupku menjadi buruk.
Dia tak semestinya membuat ku serapuh ini.
Kau harus kuat bili.. harus.
Kau punya Tuhan.
Tuhan yang punya rencana indah untuk mu.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Copyright 2009 Coretan Wanita Senja. All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates