Tak
beda dengan malam minggu dua bulan terakhir. Tanpa canda nya. Sunyi.
Sebenarnya
ada undangan natal malam ini. Cuma karena badan ku yang terlalu di porsir seminggu
ini, aku memilih untuk beristirahat di rumah.
Ya…
melewati malam minggu bersama si-senja.
Perihku
mala mini sedikit berkurang. Resep jitu adalah aku curhat pada Tuhan.
Dia
seolah mengobati luka-luka itu, meski masih terasa sedikit pilu.
Mungkin
ini saat yang tepat untuk aku bercerita pada mu senja. Aku sedikit lebih baik
malam ini. Aku sanggup untuk bercerita.
Malam
itu, 24 Desember. Tuhan mempertemukan aku secara langsung dengan orang yang
selama ini sering aku pandangi hanya lewat layar datar.
Ia…
orang yang buat aku bolak balik ke kamar mandi saat menceritakannya pada dewi
di kost. Lalu dia tertawa dan bilang “Bili.. bili… masih nyeritain aja kau udah
segerogi ini, aku ga berani bayangin kalau kau ketemu langsung.”
Ia..
orang yang buat aku setahun lebih bolak balik cerita ke kina mau nyerah tapi
kembali lagi dan kina bilang “jangan bodoh Bili!”
Ntah
apa yang Tuhan mau. Aku tak paham.
Awalnya
Tuhan seolah memberi signal pada ku untuk melupakan. Untuk move up.
Bukan
hal gampang yang harus aku jalani.
Itu
sulit.. sangat sulit.
Menahan
perasaan ku sendiri.
Tapi
saat aku mulai bisa, Tuhan malah mempertemukan secara langsung.
Malam
itu berulang-ulang aku cubit tangan ku sendiri.
Entah
ini mimpi atau apa.
Yang
aku fikir kepulangannya hanya bercanda seperti yang sering kami lakukan.
Tapi
ini nyata.
Ya…
aku melihatnya.
Ya..
aku menyentuh tangannya.
Aku
dengar suaranya.
Aku
lihat senyumnya.
Dia
nyata senja… dia nyata…
Entah
apa yang aku rasakan saat itu. Aku tak paham.
Pertemuan
itu merusak semua tekad, usaha yang susah payah aku lakukan.
Semua
kembali ke 0. Bahkan minus mungkin.
Benar-benar
malam yang kacau menurutku.
Dewi
dan kina bolak balik menghubungi malam itu.
Aku
tahu, mereka akan kecewa padaku, pada sikap ku malam itu.
Sama
halnya dengan ku.
Saat
ku ceritakan pada kina, dia marah. Jelas sekali ekspresi kecewa mereka.
Maafkan
aku sahabat ku..
Percayalah,
ini tak semudah yang kalian kira.
Ini
rumit!!!
_____________________________________________________________________________________________
Beberapa
hari ini aku intens bertemu dengannya.
Binggung
harus apa.
Aku
tak mampu mengenali diri ku.
Untuk
melihat dia saja aku tak berani.
Entah
ini petaka atau bonus kecil.
Dia
mengantar ku pulang sore itu.
Ada
apa dengan ku??
Bukannya
selama ini juga aku biasa di antar pulang??
Kenapa
berbeda saat dia yg lakukan?
Mengumpulkan
segudang keberanian. Aku membuka percakapan. Hanya di jawab hemat.
Yah..
mungkin dia masih kesal fikir ku.
Ya..
aku sendiri saja masih kesal sama diriku.
Malam
nya, aku kirim pesan. Hanya di bls :D
Yah..
Mungkin aku tak di anggap lagi fikir ku.
Air
hangat itu menetes lagi.
Ah…
Aku kuat aku kuat teriak ku dihati.
Aku
matikan lampu kamar ku.
Aku
mencoba untuk tidur.
Tapi
hati adalah hati.
Aku
biarkan dia keluar. Semampunya. Sepuasnya.
Lalu
aku tertidur.
Siang
tadi, ibuku mendesak ku menghadiri pemakaman teman gereja ku.
Tanpa
didesak pun harusnya aku disana.
Abang
itu baik padaku.
Tapi,
aku takut. Aku tahu dia pasti disana.
Ah..
cemen!!! Bentak ku pada diri sendiri.
Aku
bereskan rumahku. Aku harus semangat.
Lalu
aku pergi ke acara adat pemakaman itu.
Yah..
benar. Dia disana.
Berbeda..
aku sedikit bisa mengontrol hatiku.
Ya..
lagi2 aku percaya ini pekerjaan Tuhan.
Dia
sembuhkan luka ku.
Sampai
di malam ini, seseorang teman gereja ku nge-chat.
Dia
menawariku pekerjaan sebagai adm.
Mungkin
ini juga pekerjaan Nya.
Dia
ingin aku menyibukkan diri mungkin.
Walaupun
saat ini rasanya badan ku ingin aku belah jadi 10 bagian. Hahaha
Belakangan
dia baik, entah karena apa.
Tapi..
masih sama seperti setahun ini.
Posisi
orang itu belum juga terganti.
Entah aku sedang menunggu apa.
Entah aku sedang menunggu apa.
Tanpa
fikir panjang aku langsung jawab “TIDAK” setiap di tawari teman berkenalan
dengan pria lain.
Mereka
ingin aku move up.
Mungkin
aku harus lebih banyak belajar. Belajar membuka hati.
Dia
itu hanya sekedar cinta pertama ku.
Dia
tak berhak buat hidupku menjadi buruk.
Dia
tak semestinya membuat ku serapuh ini.
Kau
harus kuat bili.. harus.
Kau
punya Tuhan.
Tuhan
yang punya rencana indah untuk mu.







0 komentar:
Posting Komentar