Masa
kuliah adalah masa dimana aku mengalami insomnia parah, waktu itu aku sedang
main game online..
tiba2 inbox facebook ku berbunyi menandakan ada pesan masuk.
Hanya
sapaan “hi” yang dikirimkan orang itu,
tak seperti biasanya aku yang langsung
membalas dengan ramah,
kali ini aku malah sama sekali tidak membalas dan
menghiraukan.
Beberapa
waktu kemudian dia kembali mengirimiku sapaan, lagi-lagi aku abaikan.
Sampai
suatu saat, aku kesepian, teman-teman game ku off semua..
aku lihat list teman
facebook ku, satu pun tak ada yang ku kenal karna saat itu masi menunjukkan jam
10 malam.
Mata ku tertuju ke nama seseorang, nama yang sapaan nya beberapa kali
aku abaikan.
Aku coba
sapa dia, “hi juga” aku bls walaupun sapaan yg dikirimnya dengan balasanku
berjarak waktu yang lumayan lama, sekitar 2 bulan lebih mungkin.
***
Sejak
saat itu kami sering saling ngobrol dari inbox, sampai suatu saat aku terkejut,
ternyata dia berasal dari daerah yang dekat dengan aku, satu gereja malah..
Cuma dia sudah sangat lama meninggalkan kota ini untuk kuliah dan bekerja di
pulau jawa.
***
Waktu
berjalan, banyak canda yang kami lalui bersama.
Pernah juga kami saling
bertukar nomor handphone, saling bls pesan sampai malam.
Sampai
dia bilang ahir tahun dia akan liburan ke kota ini, saat itu sekitar bulan Juni
mungkin,.. ntah apa yang aku rasakan saat itu, degdeg-an, sadar ntah tidak, aku
yang cuek ke penampilan ku mulai memperbaiki penampilan, aku yang bertubuh
kurus mulai program menambah berat.
****
Saat itu
telah tiba, 28 desember 2013 aku lihat statusnya facebooknya,
dia telah tiba di
bandara kota ini,
jantungku bergerak tak menentu, kaki ku berjalan kesana kemari
tak tenang.
Minggu pertama dia di kota ini, hujan mengguyur deras, badan ku pun
sedang tidak enak, hilang sudah harapan ku untuk melihatnya secara langsung,
pikirku.
Selama
dia disini, dia sama sekali tak meng sms atau inbox fb ku, aku pun demikian,
ntah gengsi, takut, malu atau apa.
Memasuki
minggu ke dua, hari itu cerah kondisi kesehatanku pun baik,
aku pun sedikit telat tiba
di gereja.
***
“Kamu tadi gereja dek?”
“gereja bang”
“Kok abang ga liat? Padahal abang cari2 kamu loh”
“ngapain nyari, kan bs sms aja kalo mau ketemu”
“oia, abang lupa kita udah tukeran nomor, gagal deh abang liat
kamu”
“aku tadi cewek yang telat datang bang”
“oh itu kamu, kenapa bisa telat?”
“tadi mendadak ada pasien mama, jadi harus nunggu”
Ntah
kenapa inbox singkat itu aku anggap hanya basa basi semata,
aku merasa dia
hanya memastikan kalau yang dilihatnya itu aku.
Saat itu,
aku bertekad untuk lupakan dia, jauhin dia, buang semua perasaan aku untuk dia.
***
Beberapa
bulan berlalu, entah apa yang terjadi padaku..
Ada rasa
ingin inbox dia tiap lihat dia di daftar teman online fb ku
“hi dek, apa kabar?”
“baik” balas ku
“sombong ya gak pernah inbox abang lagi” katanya
“abang ah yang sombong, hehe” balas ku agak ragu2
“kok abang sih, ni aja kalau abang gak inbox kamu, kamu ga
inbox2 abang”
Chat
kecil itu memulai rusaknya janji ku kepada diriku sendiri untuk jauhin dia,
lupakan dia.
Berulang
kali aku chat dia di luan,
dia merespon dengan baik, canda2 yang dulu pun
kembali,
chat yang mampu buat aku senyum sendiri.
Sampai
suatu saat aku chat dan jawab nya hanya sekedar,
dan untuk kesekian kali aku
memilih untuk mundur karna ku fikir dia terganggu atau mungkin telah punya
pacar.
Benar
saja, beberapa waktu kemudia aku lihat dia status relationship dengan
seseorang.
Saat itu
aku benar-benar pergi, menahan jariku tiap kali ingin inbox dia.
Beberapa
waktu kemudian pun dia kembali inbox ku,
lagi-lagi aku ingkari janjiku, ntah
siapa dia itu.. kuat sekali dia.
Aku orang
yang sangat keras tentang janji bisa ingkar padahal sama diri sendiri.
Berkali-kali
hal yang sama terjadi..
Hingga
kemarin, entah karna aku yang terlanjur berharap semua canda kami selama ini
adalah tanda dia menyukaiku atau karna apa, dia seperti member signal untuk ku
kalau semuanya hanya sebatas bercanda.
Malam
itu, tak sadar airmata membasahi pipiku, mataku tertuju ke TV, tapi tidak
dengan fikiranku.
Semalam,
seharian aku menahan tak menghubunginya..
ntah
dia merasa bersalah atau memang sekedar menyapa, dia BM aku menunjukkan gambar
lucu, lagi-lagi perasaan ku mengalahkan logika ku,..
aku bls BM itu dengan gambar
lucu lagi, kembali tersenyum lagi, kembali bergetar lagi hati ini.
Ingin
rasanya aku teriak, “Apa ini!!!!!” aku gak ngerti kenapa aku terlalu lemah
menghadapi dia.
Dia yang
jelas menyadarkan aku, Hei….. aku siapa? Saat ini aku Cuma gadis biasa
***
Komitmen
kembali menjauh??? Aku rasa percuma!! Aku ini lemah!!
Tapi, sakit…
sakit sekali untuk seseorang yang sama sekali belum pernah aku temui langsung.
Gila??!! Mungkin!!
Ada rasa
marah kepada diri sendiri, kenapa aku gak bisa melawan perasaan ku..
Memangnya
dia siapa?
Gimana
kalau ternyata hidup dia itu gak baik..
Gimana kalau
ternyata dia hanya playboy yang ahli dalam luluhkan hati wanita…
Logika2
ini aku pakai untuk menapar aku yang kembali koma..
Tapi
apa???!!!
Tetap saja aku ada rasa ingin menggerakan jariku memulai obrolan
padanya.
Untungnya
minggu depan mungkin aku akan memasuki kuliah perdana ku semester 7 melanjut
dari D3 ku, aku hanya berharap suasana baru kampus dapat membuat aku lupa sama
dia.
Aku juga
udah kembali buat jadwal perbaikan diri.
Aku ingin
menjadi seseorang yang lebih baik lagi,
aku yakin wanita terbaik diciptakan
untuk pria terbaik pula.
Mungkin
dia dihadirkan untuk mengajarkan aku tentang harapan kita yang gak boleh
berlebihan sama seseorang,
kita harus jaga hati kita dari orang2 yang mungkin
akan mendatangi kita hanya ketika mereka bosan.
Sakit
memang, sangat sakit.. tapi semua sudah berlalu.
Aku
sedang belajar.. belajar menerima keadaan..
Kalau dia
inbox aku,.. sampai saat ini aku belum tau sikap seperti apa yang harus aku
lakukan, apakah harus abaikan atau membalas.
Abaikan??
Perasaan ku yang sakit tak sepenuhnya salah dia, aku yang terlalu bodoh tak
mampu peka mana bercanda dan serius
Membalas??
Aku takut jatuh lagi…
Entahlah,..
aku harus apa..
mungkin dalam waktu dekat ini aku memilih untuk menghindar, sampai aku yakin aku cukup kuat untuk terbebas dari harapan2 tinggi.
mungkin dalam waktu dekat ini aku memilih untuk menghindar, sampai aku yakin aku cukup kuat untuk terbebas dari harapan2 tinggi.
-







0 komentar:
Posting Komentar